Cermin Alam

HomeSejarahTempat Kita Bercermin Feb 13, 2008
Cermin Alam adalah tema besar multiply ini. Gagasan ini bernagkat dari sebuah filosofi bahwa alam sebagai makro-kosmos adalah ruang dimana manusia, yang merepresentasikan mikro-kosmos berada di dalamnya. Makro dan mikro kosmos sesungguhnya berada dalam peraduan sejati, namun kesadaran seperti ini seringkali hilang. Kita menganggap alam adalah objek, sementara kita adalah subjek. Padahal, menurutku keduanya menyatu. Subjek dan objek hanyalah masalah persepsi tentang superioritas. Kita seakan-akan mampu menaklukan alam, padahal sejarah juga sering bercerita bahwa kita lebih banyak ditaklukkan oleh alam.

Photo AlbumGreat Museums May 18, '08 7:20 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Musium, emang gue pikirin! Dulu itu yang muncul dalam benakku. Naskah, artifak dan patung. Paling cuman itu isinya. Tapi, kini aku sadar. Musium juga tempat yang baik untuk bercermin. Bercermin dari perilaku mahluk-mahluk semesta yang hadir sebelum kita yang kini berujud sejarah. Kesadaran sejarah adalah kesadaran kita terhadap kehidupan. Musium lah salah satu media yang mengabadikan itu.

Melalui musium, aku sadar bahwa sejak dahulu umat manusia saling terkait satu sama lain. Terkadang sebuah peradaban membangun dunianya tanpa bisa melepaskan diri dari peradaban lain. Ada unsur yang saling memperngaruhi di situ: nilai, budaya, dan gaya hidup. Bukan itu saja, meski sebuah peradaban tampil 'cemerlang' dan dapat menunjukkan dignitas dan superioritasnya keapada dunia, ia adalah bagian dari dunia lain yang tertindas dan tereksploitasi. Sebuah bangunan megah tak kan bisa hadir tanpa bantuan para buruh dan budak. Sebuah adikarya yang mencerminkan 'pencerahan' dunia, adalah juga bagian dari karya anak-anak terjajah. Ya, hukum sosial dan politik yang berlaku adalah pemenaglah yangharus tampil dalam kontestasi itu. Tapi, musium bisa berkata jujur apa yang sesungguhnya terjadi, baik ataupun buruk.

Harus diingat, musium tidak harus dalam gedung yang megah atau di tempat keramaian. Ia bisa kita hadirkan dalam hati dan pikiran kita. Ya, kesadaran sejarah adalah kesadaran terhadap eksistensi diri kita. Mari kita nikmati makna kehadiran kita dalam kehidupan dan kita persembahkan semuanya untuk Sang Maha Pencipta semesta.

Photo AlbumKatakan Dengan BungaApr 28, '08 3:46 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Serpihan alam selalu bisa menjadi perlambang suasana kehidupan dan perasaan. Begitu pula dengan bunga. Ia bisa menjadi simbol keindahan, ketentraman kedamaian, keceriaan dan bahkan kesedihan. "Wajahnya begitu berbunga-bunga," begitulah ilustrasi vebal yang sering diungkap untuk menyimbolkan kegembiraan yang dirasakan seseorang. "Ia kelihatan murung, bagaikan bunga sedang layu," adalah ilustrasi lain untuk memaknai kesedihan. Seseorang yang sangat dihormati, acap dikalungi bunga. Bahkan ketika manusia meninggalkan alam dunia, mereka pun ditaburi bunga. Ya, bunga sarat makna dan interpretasi. Ia juga menyembunyikan ciri alam ini yang terus berputar. Ia tumbuh dan menjadi indah. Dirangkai dan diagungkan. Tapi, ia pun akan layu, dan disesakkan dengan barang-barang terbuang.

Dalam 'ensiklopedi' bunga-bunga, Tulip melambangkan keceriaan warna-warni, secara umum ia dapat bermakna Perfect Lover, sebuah simbol yang terus didengungkan di Negeri Kincir Angin. Tulip Merah berarti "percayalah padaku", (declaration of love); Tulip Kuning mengungkap "ada sinar mentari di senyummu"; Tulip Lembayung (Violet) menyatakan kesederhanaan, kerendahhatian dan kesopanan (modesty); tulip warna-warni menyimbolkan keanekaragaman. Bagaikan sebuah nama yang merefleksikan makna, warna pun merefleksikan rasa.

Katakan dengan bunga, sampaikan dengan damai, serukan dengan indah. Aku yakin, bangsaku memerlukan bunga-bunga. Setidaknya ia bisa menjadikan manusia merasakan keindahan, meskipun mereka belum sampai memaknai makna 'sepiritual' di balik keindahan fisiknya.

Photo AlbumManusia ModernMar 26, '08 7:00 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Siapakah manusia modern itu? Ada dimanakah mereka? Apa karakteristiknya? Apa yang membedakan mereka dengan masyarakat tradisional? Betulkah mereka semakin individualistik?

Seorang sejarahwan mengatakan bahwa era modern adalah era 'tekhnikalistik,' itulah yang membedakannya dengan era tradisional. Ukurannya, alat-alat yang dipergunakan untuk menopang kehidupan manusia agar lebih baik, hidup lebih efektif dan efisien. Singkatnya, menjadi modern adalah menjadi maju.

Kini, kemoderenan juga dikaitkan dengan nilai, kesadaran akan semesta. Efektivitas dan efisiansi tidak selalu terkait dengan kecanggihan dan pemborosan. Alat-alat sudah memenuhi bumi ini, bahkan mungkin sudah memasuki taraf menyesakkan. Orang mulai berfikir, bagaimana lingkungan dimana kita hidup terlihat lebih segar, tidak menyesakkan.

Orang bilang orang modern lebih individualistik. Pendapat itu bisa benar bisa salah. Ya, benar mungkin dalam karakteristik individu yang sibuk mengurusi kebutuhan masing-masing, pekerjaan dan kewajiban yang menumpuk. Tapi, toh mereka juga ada dimensi sosialnya. Alat-alat yang tersedia dan memadai, memungkinkan mereka untuk bertemu, tanpa harus ada tutur kata. Tranportasi umum contohnya. Orang berdasi dan berjas hitam, bisa bersama-sama dengan orang bersandal jepit atau mahasiswa yang membawa backpack, tanpa harus saling mengamati.

Kadang, kita merasa modern ketika setiap orang membawa alat transportasi sendiri-sendiri. Sebuah keluarga yang berkelebihan bisa memiliki kendaraan lebih dari sekian. Suami, istri dan anak, masing-masing satu. Bukankah itu yang lebih individualistik. Tak peduli jalanan sesak. Yang penting ada duit, dan kita mampu membeli bensin. Itu mungkin yang selalu ada dalam benak kita. Aku juga menyadari, klaim kita sebagai bangsa besar, bangsa yang punya kepedulian sosial, suka bersosialisasi, adalah narasi semata. Kita sesugguhnya lebih individualistik dalam hal ini.

Photo AlbumKohesivitas KeluargaMar 26, '08 6:10 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sebetulnya kapan mulai tumbuhnya kesadaran akan kohesi sosial bagi seorang individu. Sudahkah kesadaran itu muncul ketika dia baru lahir? Apakah ketika mereka sudah beranjak dewasa mereka merasa terikat dalam lingkungan sosial tertentu? Bukakah ketika dewasa manusia kadang jauh lebih individualis dibandikan masa anak-anak?

Kadang ketika mencermati anggota keluarga, tiba-tiba aku sadar, bahwa kesadaran akan kohesivitas sosial tumbuh secara alami. Makna perpisahan dan pertemuan, mereka rasakan sejak usia masih sangat belia. Kebutuhan mereka sebagai sebuah keluarga memang bukan hanya kebutuhan fisik dan material, tapi juga kebutuhan akan kasih sayang, diantaranya diperoleh melalui intensitas dan kualitas pertemuan yang bisa mereka lakukan. Aku, sebagaimana anak-anak, sesungguhnya membutuhakn kedua bentuk kebutuhan di atas. Namun, kadang aku sering kali terjebak atau dipaksa keadaan untuk sedikit bersikap lebih egois. Berpisah dalam waktu yang cukup lama dengan mereka. Meninggalkan mereka demi selembar ijazahkah? Atau Segudang ilmu kah?. Aku yakin, tidak semua sikap 'egois' itu buruk, selama memang ditujukan untuk sebuah kebaikan bersama. Sebuah anggota keluarga dapat memaknai kohesivitas dengan cara lain, berkomunikasi, tanpa harus dilakukan melalui pertemuan fisik, tentu, hanya untuk sementara waktu.


Photo AlbumBumi Rempah-RempahMar 15, '08 7:51 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Rempah-rempah, kata yang begitu sering kudengar saat di sekolah dasar. Dalam mata pelajaran sejarah. Waktu itu, aku bahkan tak tahu apa makna sebenarnya dan bagaimana rupanya. Rempah-rempah adalah sebuah wacana politik dan ekonomi yang menyejahterakan sebuah bangsa dan menyengsarakan bangsa lain. Itu dulu. Kini, aku mengenalnya hanyalah bumbu masak, yang entah masuk dalam kategori rempah atau tidak. Yang, pasti, rempah-rempah dapat berubah menjadi jembatan yang panjang, bendungan yang menjulang, dan rel kereta api yang menjuntai . Dapatkah bangsaku maju dengan rempah-rempah. Masih adakah rempah-rempah itu?

Photo AlbumAsian Civilization Mar 15, '08 7:16 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
'The true Asia', siapakah yang sebenarnya? Aku tak mau meributkan siapa yang berhak mengkalim "the real asian people". Secara geografis Asia memang luas, dan secara kultural juga sangat beragam. Malaysia, Indonesia, Singapore, Thailand, China dan yang lain, serumpun kah mereka? Mengapa mereka terpisah, sama, dan juga berbeda? Bagaimana proses kolonisasi terhadap bangsa-bangsa ini? Apa tradisi spiritual yang telah bersemai ribuan tahun dalam masyarakat Asia? Mengapa saat ini sebagian bangsa di Asia dapat maju pesat sementara sebagian yang lain tersendat? Ya, roda dunia terus berputar. Kejayaan sebuah bangsa ada akhirnya. Bahkan kerajaan sebesar Majapahit yang begitu digdaya di masa lalu. Bukankah para pelaut kita mampu mengayuh perahu hingga ujung dunia? Kini, semua tinggal cerita yang barangkali kita sudah lupa. Yang tidak kita lupa adalah bangsa ini tengah terengah-engah, mencoba keluar dari gegap gempita harapan akan dunia yang sejahtera.

Apakah sebuah tradisi agama menentukan kesejahteraan sebuah bangsa?

NoteGuestbook
   
inidiana wrote on Aug 27
Hilman...
nuhun tos mampir nya ^_^
ko tdk sekalian invite atuh Kang?? hehe... jadi saya nu miheulaan...

ratnajanuarita wrote on Oct 17, '08, edited on Oct 17, '08
assalamu'alaikum wrwb ... dupi leres ieu teh Hilman Latief putra Pak Abdurachman ti Unisba? saya ratna dosen di unisba. Saya tahu nama Anda, dari Atip (Persis). Saya ada perlu banyak nih hehe ... punten belum kenal sudah berani2 ngerepotin ... saya PM ya ... tapi kalo boleh reply-nya ke email saya, karena saya sedang agak jarang ngempi.

*ada cep Maher*

*ada Ima juga*
h4latief wrote on Jun 27, '08
Hatur nuhun Maher
amaher wrote on May 1, '08
kang..punten nembe terang antum gaduh Mp hehe
salam hangat ti Cairo ;)
shofwankarim wrote on May 1, '08
Selamat Hilman. Tolong tetap kontak
akhirudins wrote on Apr 23, '08
salam kenal.
ahmadsahidah wrote on Apr 13, '08
Salam, semoga tautan kita makin kokoh.
mizzazwa wrote on Apr 9, '08
Halo..mampir yah
arielpeterpen wrote on Apr 3, '08
good work Aa! aku suka blognya, ada keceriaan di balik gelap. keep update ya!
suratno77 wrote on Mar 28, '08
Bung, selamat ya. multiply-nya bagus. semoga rajin di up-date. salam!
beemge wrote on Feb 13, '08
weleh weleh.. udah dapat KTP Leiden, Kang?
imazahra wrote on Jul 10, '07
Assalaamu'alaikum,

Mas, ini Mas Hilman, alumni PP IRM 1998-2000???

Kabarnya Mas baru dapat beasiswa Fullbright ya, selamat ya Mas :-)

Wassalaamu'alaikum,
Ima
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help